Petani Bawang Kintamani Tetap Tersenyum di Tengah Cuaca Ekstrem, Meski Harga Anjlok
Kabar Bangli- Cuaca ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Bali, termasuk Bangli, ternyata tidak terlalu memengaruhi perkebunan bawang di kawasan Kintamani. Tanaman bawang di dataran tinggi Songan, Kecamatan Kintamani, tetap tumbuh subur karena air hujan cepat meresap ke tanah, sehingga kebun tidak tergenang.
“Di sini relatif aman dari dampak cuaca ekstrem karena air hujan cepat meresap. Jadi tidak sampai bikin kebun tergenang,” kata Putu Kertayasa, salah satu petani bawang setempat, Kamis (11/9/2025).
Menurut Kertayasa, kondisi cuaca di Kintamani memang cukup bersahabat. Hujan yang turun tidak terlalu lama, sehingga lahan tidak menjadi becek. Hal ini penting karena genangan air yang terlalu lama bisa membuat umbi bawang cepat membusuk dan mengurangi kualitas panen.
“Selama ini panen masih normal. Hasilnya juga bagus, jadi kami masih bisa bernapas lega,” ujarnya.

Baca Juga : Pemkab Bangli Gandeng Lintas Sektor Perkuat Budaya Transparansi
Harga Bawang Turun Drastis
Meski panen aman dari gangguan cuaca, Kertayasa mengaku ada tantangan lain yang harus dihadapi petani, yaitu turunnya harga bawang secara signifikan dalam sepekan terakhir. Harga yang sebelumnya mencapai Rp40.000 per kilogram kini merosot menjadi Rp20.000 per kilogram.
“Turunnya harga ini wajar karena Agustus sampai September memang musim panen raya. Banyak daerah lain, termasuk luar Bali, juga panen bawang, jadi stok melimpah,” jelasnya.
Akibat penurunan harga ini, keuntungan petani berkurang hampir setengahnya. Meski demikian, mereka masih bisa menutupi biaya produksi sehingga tetap termotivasi untuk melanjutkan usaha taninya.
Petani Berharap Harga Stabil
Kertayasa berharap pemerintah atau pihak terkait bisa membantu menjaga kestabilan harga bawang, agar petani tetap mendapatkan keuntungan yang layak. Menurutnya, harga yang terlalu rendah bisa membuat petani rugi dan enggan menanam pada musim berikutnya.
“Kami berharap ada solusi agar harga tidak terlalu jatuh. Minimal bisa seimbang dengan biaya produksi,” tambahnya.
Meski dihadapkan pada fluktuasi harga, para petani bawang di Kintamani tetap bekerja keras merawat kebun mereka. Cuaca yang bersahabat menjadi modal semangat untuk terus memproduksi bawang berkualitas, agar pasokan ke pasar tetap terjaga.
















