Pemkab Bangli Gencarkan Edukasi Cegah Pernikahan Dini, Bentuk Generasi Cerdas Menuju Indonesia Emas 2045
Kabar Bangli- Pemerintah Kabupaten Bangli bersama Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Bangli terus bergerak aktif dalam mengedukasi generasi muda, khususnya pelajar, agar terhindar dari pernikahan dini dan kehamilan pranikah. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari komitmen daerah dalam membangun generasi berkualitas menyambut visi besar Indonesia Emas 2045.
Kegiatan sosialisasi tersebut berlangsung di SMKN 4 Bangli dan SMKN 1 Susut, Kamis (16/10/2025), dengan menghadirkan ratusan pelajar dan tenaga pendidik. Dalam kesempatan itu, Ketua GOW Kabupaten Bangli, Suciati Diar, yang juga istri Wakil Bupati Bangli I Wayan Diar, menegaskan pentingnya pendidikan dan perencanaan masa depan bagi para remaja.
“Masa depan yang gemilang tidak lahir dari keputusan yang tergesa-gesa. Masa muda adalah masa emas yang seharusnya digunakan untuk belajar, berkarya, dan berprestasi,” ujar Suciati.

Baca Juga : Suasana Perpecahan Komunitas Jeep Berujung Dua Nyawa Melayang
Ia mengingatkan bahwa pernikahan di usia muda dapat membawa dampak serius, baik secara sosial, ekonomi, maupun kesehatan. Tidak sedikit remaja yang kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan, menunda cita-cita, bahkan menghadapi risiko kesehatan reproduksi akibat belum siap secara fisik maupun mental.
“Pernikahan dini sering kali membuat masa depan remaja berhenti di tengah jalan. Padahal, bangsa ini membutuhkan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing untuk mencapai Indonesia Emas 2045,” tambahnya.
Selain membahas bahaya pernikahan dini, kegiatan tersebut juga mengangkat isu penting lain seperti pencegahan perundungan (bullying) dan pemberdayaan perempuan muda. Edukasi ini dinilai sangat penting agar pelajar memiliki pemahaman yang komprehensif tentang pentingnya menjaga diri, menghormati sesama, dan menumbuhkan rasa percaya diri.
“Anak-anak harus berani berkata tidak pada hal-hal yang bisa merusak masa depan. Termasuk berani melawan perundungan dan tekanan sosial,” tegasnya.
Sementara itu, berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2024, tercatat bahwa dari setiap 1.000 perempuan berusia 15–19 tahun di Indonesia, terdapat 18 kelahiran yang menunjukkan masih adanya kasus kehamilan remaja.
Badan Pusat Statistik (BPS) Bali juga mencatat bahwa pada tahun yang sama.
proporsi perempuan yang menikah atau hidup bersama sebelum usia 18 tahun di Provinsi Bali mencapai 3,37 persen, lebih rendah dibanding rata-rata nasional yang berada di angka 5,90 persen. Meski begitu, Kabupaten Bangli, Karangasem, dan Buleleng masih tergolong memiliki angka yang relatif tinggi dalam hal kelahiran pertama pada usia di bawah 20 tahun.
Data tersebut menjadi dasar bagi Pemkab Bangli untuk terus memperkuat sosialisasi, kolaborasi antarinstansi, dan pendampingan psikologis kepada remaja. GOW Bangli bersama pemerintah daerah juga mendorong sekolah-sekolah agar aktif melibatkan guru BK, tenaga kesehatan, dan tokoh masyarakat dalam kegiatan edukatif berkelanjutan.
“Kami ingin pelajar Bangli menjadi generasi yang kuat, tidak mudah terpengaruh pergaulan bebas, dan mampu mengambil keputusan yang bijak untuk masa depan mereka sendiri,” tutup Suciati Diar.
Melalui langkah nyata ini, Bangli berharap dapat mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat dan kesadaran tinggi untuk membangun masa depan bangsa yang lebih baik.
















