Breaking News
"Berita" adalah sajian informasi terkini yang mencakup peristiwa penting, fenomena sosial, perkembangan ekonomi, politik, teknologi, hiburan, hingga bencana alam, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Kontennya disusun berdasarkan fakta dan disampaikan secara objektif, akurat, dan dapat dipercaya sebagai sumber referensi publik.
Shoppe Mall
Shoppe Mall
Shoppe Mall Shoppe Mall Shoppe Mall

Petani Bangli Kini Olah Kotoran Sapi Jadi Pupuk Organik Bernilai Tinggi

cek disini

Dorong Pertanian Berkelanjutan, Petani Bangli Diajak Olah Kotoran Sapi Jadi Pupuk Organik Bernilai Tinggi

Kabar Bangli- Upaya mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk anorganik terus digalakkan berbagai pihak. Salah satunya datang dari kalangan akademisi Universitas Warmadewa, Denpasar. Melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Hibah Institusi, para dosen lintas keahlian turun langsung ke Desa Bunutin, Kecamatan Bangli, untuk mengajarkan cara mengolah kotoran sapi menjadi pupuk organik kompos yang lebih ramah lingkungan dan bernilai ekonomi tinggi.

Program yang dimulai sejak 27 Juli 2025 ini menyasar Kelompok Tani Amerta Nadi. Selama kegiatan berlangsung, para petani tidak hanya diberikan penyuluhan, tetapi juga praktik langsung fermentasi kotoran sapi, pembangunan rumah pengeringan, hingga pelatihan manajemen usaha berbasis produk kompos.

Petani Bangli Kini Olah Kotoran Sapi Jadi Pupuk Organik Bernilai Tinggi
Petani Bangli Kini Olah Kotoran Sapi Jadi Pupuk Organik Bernilai Tinggi

Baca Juga : Enam PPAT Baru Dilantik di Bangli, Layanan Pertanahan Siap Lebih Cepat dan Transparan

Potensi Besar yang Selama Ini Terabaikan

Menurut Ir. A.A. Ngr. Mayun Wirajaya, MM, dosen Fakultas Pertanian Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa sekaligus ketua tim program, kotoran sapi padat yang biasanya hanya dijual basah tanpa pengolahan sebenarnya menyimpan potensi besar.

“Selama ini petani cenderung menjual kotoran sapi apa adanya. Padahal, dengan sedikit sentuhan teknologi, limbah tersebut bisa diubah menjadi pupuk organik berkualitas tinggi yang bernilai jual lebih tinggi,” jelasnya di Denpasar, Kamis (28/8/2025).

Dari Limbah Jadi Produk Bernilai

Sebelum program berjalan, para petani menghadapi sejumlah masalah. Limbah kotoran sapi biasanya ditumpuk begitu saja di tempat terbuka, tanpa proses fermentasi. Selain berbau dan mencemari lingkungan, kualitas pupuk yang dihasilkan pun rendah.

Kini, berkat program ini, petani sudah mulai terbiasa menggunakan compost bag untuk proses fermentasi. Hasil fermentasi pertama yang diamati pada 26 Agustus 2025 bahkan sudah dikemas dan siap diuji ke pasar.

Selain itu, rumah pengeringan yang dibangun tim juga membuat proses produksi lebih cepat dan efisien. Kompos yang dihasilkan tidak hanya memiliki mutu lebih baik, tetapi juga bisa diproduksi dalam jumlah lebih banyak dan berkelanjutan.

Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Manfaat dari inovasi ini tidak hanya dirasakan pada sektor pertanian, tetapi juga dari sisi ekonomi dan lingkungan.

  1. Bagi petani, pupuk organik buatan sendiri bisa mengurangi biaya produksi karena tidak lagi bergantung penuh pada pupuk kimia yang harganya mahal.

  2. Bagi lingkungan, pengolahan kotoran sapi membantu mengurangi pencemaran akibat limbah ternak yang menumpuk sembarangan.

  3. Bagi kelompok tani, pengelolaan kompos membuka peluang usaha baru. Produk pupuk organik dapat dijual sebagai sumber pendapatan tambahan.

“Harapan kami, petani tidak hanya fokus beternak, tetapi juga mampu mengelola limbahnya menjadi produk bermanfaat. Inilah konsep pertanian sirkular yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ungkap Mayun.

Perubahan di Kelompok Tani Amerta Nadi

Seiring berjalannya program, perubahan positif mulai terasa di tubuh Kelompok Tani Amerta Nadi. Anggota kelompok kini lebih aktif mengikuti proses produksi, saling berbagi pengalaman, serta bersemangat melihat peluang bisnis baru dari produk pupuk kompos.

Organisasi kelompok pun menjadi lebih terkelola. Jika dulu limbah hanya dianggap masalah, kini petani melihatnya sebagai sumber daya ekonomi.

Bisa Jadi Model di Daerah Lain

Mayun menegaskan, keberhasilan program ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat mampu menghasilkan solusi praktis bagi persoalan di lapangan.

“Kami berharap model ini dapat direplikasi di daerah lain, agar semakin banyak petani yang mandiri, mampu mengurangi penggunaan pupuk kimia, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” pungkasnya.

telkomsel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *