Bangli – Keterbatasan sumber air Bangli kembali menjadi perhatian. Pemerintah pusat mewacanakan pencetakan 6.000 hektare sawah baru di beberapa daerah. Namun, kondisi geografis Bangli yang berada di dataran tinggi membuat suplai air irigasi sulit tercapai. Selain itu, sebagian besar sungai di Bangli mengalir ke daerah dataran rendah, seperti Gianyar dan Klungkung. Akibatnya, petani Bangli sering berada pada posisi yang kurang menguntungkan saat membutuhkan air untuk lahan mereka.
Baca Juga: Kunjungan Wisatawan Bangli Diprediksi Tembus 1,5 Juta pada Akhir 2025
Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Bangli, I Wayan Sarma, menegaskan bahwa kebutuhan air harus menjadi perhatian utama. Menurutnya, pemerintah tidak bisa menetapkan pencetakan sawah baru tanpa mempertimbangkan kondisi teknis di lapangan. Ia juga menyebut bahwa pemetaan lahan harus sesuai dengan Tata Ruang di Dinas PU dan data dari ATR/BPN.

Meski begitu, Sarma menjelaskan bahwa pihaknya belum dapat menyampaikan lokasi sawah baru. Kajian teknis masih berjalan, sehingga pemerintah perlu menilai ulang potensi aliran air dan kemampuan distribusinya. Oleh karena itu, ia menilai rencana tersebut berisiko tidak optimal jika tidak didukung suplai air yang jelas Keterbatasan sumber air Bangli.
Baca Juga: KDM Pantau Pembongkaran dan Temukan Masalah Data serta Kompensasi Warga
Berdasarkan data Dinas PKP Bangli, luas sawah saat ini hanya 2.134,5 hektare. Angka itu jauh lebih kecil dibandingkan luas lahan non-sawah yang mencapai 35.134,5 hektare. Sementara itu, total wilayah Bangli tercatat 52.081 hektare. Kondisi ini menunjukkan bahwa perluasan sawah membutuhkan syarat ketat. Terutama, ketersediaan air yang selama ini menjadi kendala terbesar.
















